Rabu, 12 September 2012

Machine translation


     

   Machine translation, sometimes referred to by the abbreviation MT (not to be confused with computer-aided translation, machine-aided human translation MAHT and interactive translation) is a sub-field of computational linguistics that investigates the use of software to translate text or speech from one natural language to another.



     On a basic level, MT performs simple substitution of words in one natural language for words in another, but that alone usually cannot produce a good translation of a text, because recognition of whole phrases and their closest counterparts in the target language is needed. Solving this problem with corpus and statistical techniques is a rapidly growing field that is leading to better translations, handling differences in linguistic typology, translation of idioms, and the isolation of anomalies.
       Current machine translation software often allows for customization by domain or profession (such as weather reports), improving output by limiting the scope of allowable substitutions. This technique is particularly effective in domains where formal or formulaic language is used. It follows that machine translation of government and legal documents more readily produces usable output than conversation or less standardised text.

     Improved output quality can also be achieved by human intervention: for example, some systems are able to translate more accurately if the user has unambiguously identified which words in the text are names. With the assistance of these techniques, MT has proven useful as a tool to assist human translators and, in a very limited number of cases, can even produce output that can be used as is (e.g., weather reports).

      The progress and potential of machine translation has been debated much through its history. Since the 1950s, a number of scholars have questioned the possibility of achieving fully automatic machine translation of high quality. Some critics claim that there are in-principle obstacles to automatizing the translation process.

      The idea of machine translation may be traced back to the 17th century. In 1629, René Descartes proposed a universal language, with equivalent ideas in different tongues sharing one symbol. In the 1950s, The Georgetown experiment (1954) involved fully automatic translation of over sixty Russian sentences into English. The experiment was a great success and ushered in an era of substantial funding for machine-translation research. The authors claimed that within three to five years, machine translation would be a solved problem.

     Real progress was much slower, however, and after the ALPAC report (1966), which found that the ten-year-long research had failed to fulfill expectations, funding was greatly reduced. Beginning in the late 1980s, as computational power increased and became less expensive, more interest was shown in statistical models for machine translation.


       The idea of using digital computers for translation of natural languages was proposed as early as 1946 by A. D. Booth and possibly others. Warren Weaver wrote an important memorandum "Translation" in 1949. The Georgetown experiment was by no means the first such application, and a demonstration was made in 1954 on the APEXC machine at Birkbeck College (University of London) of a rudimentary translation of English into French. Several papers on the topic were published at the time, and even articles in popular journals (see for example Wireless World, Sept. 1955, Cleave and Zacharov). A similar application, also pioneered at Birkbeck College at the time, was reading and composing Braille texts by computer.

Dituduh Berzina, Limbad Akui Telah Nikah Siri


             
JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah sempat dikabarkan menghilang, mentalis Faqir Limbad akhirnya buka suara terkait tudingan perzinahan yang dilayangkan istrinya, Susi Indrawati. Kepada media, Limbad mengaku telah menikah siri dengan wanita berinisial BE.

Meski tak merinci identitas perempuan yang telah dinikahinya itu, Limbad menolak mentah-mentah tudingan yang menyebutkan bahwa dirinya berzina.

"Saya tidak berzina! Karena saya sudah menikah siri dengan dia (BE)," katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (11/9/2012).

"Sekarang saya ingin diam dulu, nanti saatnya saya akan bicara," terangnya.

Ketika disinggung soal identitas perempuan lain yang telah dinikahinya itu, Limbad enggan menanggapinya. Mulutnya tertutup rapat ketika ditanya kapan ia telah melangsungkan pernikahan siri dengan wanita tersebut.

Ditemui di tempat berbeda, Susi, yang telah dikaruniai tiga orang anak hasil pernikahannya dengan Limbad, hanya berharap suaminya bisa menjelaskan semuanya secepat mungkin. Terlebih karena Susi mengaku kesulitan menghubungi dan menemui Limbad.
Editor :
Eko Hendrawan Sofyan

8 hewan pra sejarah yang paling terkenal

Inilah dia 8 hewan pra sejarah yang paling terkenal…

1. Triceratops
Nama : Triceratops
Panjang : 9 m, tinggi 3 m
Massa : 12 ton
Zaman : Akhir Cretaeceous (68 juta tahun yang lalu)
Makan : Tumbuh-tumbuhan

Triceratops berarti muka bertanduk tiga dalam bahasa Yunani. Hewan ini memiliki cula sepanjang 1 m sebanyak 2 buah di atas matanya, dan satu lagi lebih pendek dibagian atas hidungnya. Hal yang paling membedakan hewan ini dari hewan yang lain adalah tulang tengkoraknya yang mampu berkembang sepanjang 2m, hampir sepertiga panjang tubuhnya. Fosil hewan ini ditemukan di Benua Amerika. Hewan ini diperkirakan tidak berkelompok dan individual. Tanduknya berfungsi sebagai kedudukannya terhadap triceratops lain seperti halnya rusa saat ini (courtship). Hewan ini menjadi objek penelitian yang cukup banyak digemari oleh para ilmuwan karena banyaknya fosil yang ditemukan.

Intermezo:
Selain fosil hewn ini banyak ditemukan, hewan ini terkenal karena ke-eksotisannya, bentuk fisik yang unik dan terkesan “friendly” bagi masyarakat membuatnya menjadi ikon hewan prasejarah yang digemari anak-anak.
(Gimana ga eksotis?yang bercula satu aja diburu besar-besaran, apalagi bercula tiga?)

2. Mammoth
Nama: Mammoth (Mammuthus primigenius)
Panjang: 5 meter (hingga bahu)
Massa: 12 ton
Zaman: Pliosen (4,8 jt tahun yg lalu)
Makan: Tumbuhan (biasanya yang berupa pohon)

Mammoth merupakan nenek moyang hewan yang kita kenal dengan nama gajah, dan memiliki gading sepanjang 3,3 m yang digunakan saat berkelahi ataupun menakuti musuh. Fosil mammoth sering ditemukan dalam kondisi yang masih baik karena kondisi suhu yang sangat rendah. Habitat mammoth adalah daerah-daerah balkan (Rusia, Siberia, dan sekitarnya). Mammoth sering juga disebut woolled elephant atau gajah berbulu tebal karena bulu yang melindungi tubuhnya (yg mampu membuatnya bertahan di suhu yang ekstrim).

3. Velociraptor
Nama: Velociraptor
Panjang: 2 m, (tinggi tubuh saat berdiri 1 m)
Massa: 50 kg
Zaman: Akhir Cretaeceous
Makan: Hewan-hewan yang berukuran lebih kecil dari ukuran tubuhnya

Velociraptor berarti pencuri berkecepatan tinggi (speedy thief). Memiliki 30 gigi yang panjang dan tajam, paruh yang datar, dan leher membentuk seperti huruf “s”. Bergerak dengan kedua tungkai (kaki) nya yang kuat, dan berukuran kecil, hewan ini memiliki karakteristik yang hampir sama dengan cheetah. Akan tetapi, raptor seringkali berburu dalam kelompok yang terdiri dari 3-10 ekor raptor. Ciri khas lain dari raptor (selain kedua tungkainya yang kuat) adalah kapasitas otaknya yang diperkirakan memiliki kemampuan yang sama dengan simpanse (mampu berkomunikasi dengan sesama raptor melalui suara-suara yang spesifik). Kecepatan larinya mencapai 40 mil per jam. Fosil Velociraptor ditemukan di Rusia, Mongolia, dan China.

4. Pterodactyl
Nama: Pterodactyl (Pterosaurus)
Panjang: tubuh saat berdiri 3m, bentangan sayap mencapai 10m
Massa: -
Zaman: Trias (65,5 juta tahun yg lalu)
Makan: Tumbuhan dan hewan-hewan kecil seperti ular dan ikan

Pterodactyl berasal dari bahasa Yunani yang berarti kadal yang bersayap (winged lizard). Hewan ini terkenal dengan paruhnya yang panjang dan bentangan sayapnya yang lebar (mencapai lebih dari 10 m). Peneliti dari Ohio University menemukan ada satu bagian otak yang membedakan hewan ini dengan hewan vertebrata lainnya. Flocculi. Proporsi flocculi didalam otak pterosaurus mencapai 7,5%, dan rata-rata vertebrata hanya memiliki 1-2% flocculi didalam otaknya. Flocculi ini menyebabkan penglihatan pterosaurus menjadi jauh lebih baik. Namun proporsi yang besar ini lebih disebabkan oleh bentangan sayapnya yang lebar, karena selain berhubungan dengan otot mata, flocculi juga berhubungan erat dengan kerja syaraf sensorik.

5. Smilodon
Nama: Smilodon (Long-teeth cats)
Panjang: -
Massa: 55-300 kg
Zaman: Megantereon (2,5 juta-500.000 tahun yang lalu)
Makan: hewan pemakan tumbuhan (bison, rusa,dll.)

Smilodon atau yang dikenal dengan sebutan sabre-tooth cat berasal dari bahasa Yunani yang artinya gigi pahat, ditemukan di Benua Amerika. Ciri khas dari hewan ini adalah gigi taring atas yang panjang (17 cm). Smilodon berburu dalam kelompok seperti halnya singa saat ini. Akan tetapi, kelompok tersebut tidak didominasi oleh pejantan, karena ukuran tubuhnya yang sama dengan betina. Gigi taring yang panjang tersebut tidak digunakan untuk memikat pasangan, jadi kehidupan sosial hewan ini belum banyak diketahui. Smilodon memiliki tubuh yang lebih menyerupai beruang karena bulunya menyerupai beruang, dan bagian perut yang lebar dan pendek.
6. Temnodontosaurus
Nama: Temnodontosaurus
Panjang: 9 m
Massa: 15 ton
Zaman: Awal Jura (196 juta tahun yg lalu)
Makan: Cumi-cumi dan ikan-ikan kecil

Temnodontosaurus merupakan pemangsa bawah laut yang memiliki stamina berenang yang menakjubkan, yang membuatnya mampu berenang hingga ke dasar laut untuk mencari mangsa. Fosilnya ditemukan di Perairan Inggris dan Jerman. Ciri khas dari hewan ini adalah matanya yang besar, 20 cm. Hewan ini mirip dengan lumba-lumba saat ini, karena paruhnya yang panjang dan sirip yang datar.

7. Tyrannosaurus
Nama: Tyrannosaurus rex
Panjang: 12 m, tinggi 6 m
Massa: 7,5 ton
Zaman: Cretaeceous (68 juta tahun yang lalu)
Makan: hewan pemakan tumbuhan

Tyrannosaurus rex dalam bahsa yunani berarti raja kadal yang kejam. Sama seperti raptor, T-rex bertungkai dua, leher menyerupai huruf “s”, dan memiliki ekor sebagai penyeimbang gerakannya. T-rex memiliki tulang tengkorak yang besar (1,5 m) yang dikelilingi jaringan-jaringan otot yang kuat sehingga membuatnya mampu dengan mudah mengunyah mangsanya. Hewan ini ditemukan di Benua Amerika dan Benua Asia (Tarbosaurus). Lengan hewan ini terbilang cukup kecil, hanya sepanjang 1 m dan belum ditemukan fungsi sebenarnya dari lengan ini. Penelitian terbaru (April 2008) mengatakan bahwa T-rex memiliki kekerabatan dengan bangsa unggas, aligator, dan burung unta. Walaupun tubuhnya cukup besar, T-rex memiliki otot-otot yang banyak yang memungkinkannya berlari dengan kecepatan 40-70 km/h. Kemampuan lain dari hewan ini adalah mampu mencium bebauan dari jarak yang jauh yang mampu dibandingkan dengan burung pemakan bangkai saat ini. Hingga saat ini masih menjadi perdebatan apakah T-rex sebenarnya pemakan bangkai atau hewan yang berburu.

8. Coelacanth
Nama: Coelacanth (Latimeria chalumnae)
Panjang: 2 m
Massa: 80 kg
Zaman: Devonian pertengahan (410 jt tahun yg lalu)
Makan: Cumi-cumi dan Ikan-ikan kecil

Coelacanth yg berasal dari bahasa Yunani yg berarti hollow spine (duri/tulang punggung yang berlekuk) diperkirakan sudah punah semenjak zaman cretaceous. Namun penemuan mengejutkan terus berdatangan seiring ditemukannya hewan ini di perairan Tanzania, Madagascar, Kenya, dan Indonesia, tepatnya Taman Laut Nasional Bunaken (mantab bro!). Walaupun hewan ini mati setelah ditangkap nelayan, diyakini hewan ini masih ada dan hidup di perairan dalam (>700 m). Coelacanth termasuk salah satu fosil hidup karena nyaris tidak mengalami perubahan secara signifikan pada fisik hewan ini dari masa ke masa.


sumber : terselubung

10 Game Facebook Paling Populer

Permainan Garden of Time menjadi permainan Facebook paling populer di dunia


Facebook merilis 10 permainan (game) yang paling sering dimainkan di dunia. Daftar ini disusun dengan melihat dari 100.000 pengguna aktif bulanan dan memberikan prioritas kepada game-game dengan skor tertinggi.

Dari daftar ini bisa dilihat bahwa game-game paling populer di Facebook tersebut didominiasi oleh  para pengembang game lulusan Lembah Silikon. Beberapa pengembang game tersebut berasal dari Seattle, Santa Monica, Kanada, Jerman, Serbia dan Praha.

Uniknya, pamor game Cityville besutan Zynga sudah menurun di tahun ini dan mulai digantikan oleh Gardens of Time dari Playdom. Konsep dari kedua permainan tersebut memang masih sama, yaitu membangun sebuah peradaban di kota.

Namun di Gardens of Time, pemain bisa membangun peradaban mulai dari kota Troy, Piramida Mesir, Menara Jam Big Ben di Gedung Parlemen di Westminster London hingga Taman Gantung di Babilonia. Penikmat game bakal dimanjakan oleh miniatur bangunan bersejarah di seluruh dunia.

 

Inilah 10 permainan di Facebook paling populer di dunia:

 

 

1. Gardens of Time (Playdom) - http://www.facebook.com/GardensofTime


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. The Sims Social (EA) - http://www.facebook.com/TheSimsSocial


 

 

3. Cityville (Zynga) - http://apps.facebook.com/cityville/


 

 

4. DoubleDown Casino (DoubleDown Interactive)


 

 

5. Indiana Jones Adventure World (Zynga)
 

 

 

6. Words With Friends (Zynga) 


 

 

 

7. Bingo Blitz (Buffalo Studios)


 

 

8. Empires & Allies (Zynga) 
 

 

9. Slotomania-Slot Machines (Playtika) 
 

 

10. Diamond Dash (Wooga) 

Minggu, 09 September 2012

Tetap Sehat Meski Begadang

Oleh: Marmi Panti Hidayah

 

 Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia, seperti halnya makan, minum dan bernafas. Sehingga apabila seseorang kekurangan waktu tidurnya, maka ia harus mengganti waktu tidur yang hilang.

Namun apa mau dikata, begadang atau tidak tidur hingga malam larut kerap menjadi gaya hidup sebagian masyarakat di kota-kota besar. Berbagai alasan melatari mereka untuk tetap melek di malam hari, di antaranya karena harus menyelesaikan pekerjaan atau lembur kerja. 
 Tubuh pun dipaksa untuk bertahan lebih lama untuk mendukung aktivitas yang belum tuntas. Bagi mereka yang terpaksa harus begadang seperti ini, sebenarnya tak perlu khawatir dengan kesehatan asalkan tetap menganut pola hidup sehat.

“Tidak ada masalah dengan begadang, asalkan tetap bisa tidur berkualitas, memerhatikan kebutuhan nutrisi, dan jangan lupa berolahraga,” jelas ahli kesehatan, Sarah Handayani, SKM, Mkes.

Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka ini mengatakan, idealnya waktu tidur memang 8 jam sehari. Namun demikian, yang terpenting adalah bukan lamanya waktu tidur, tapi bagaimana kualitas tidurnya. 
 
 “Banyak orang tidur hanya 4-5 jam sehari tapi tetap sehat, lantaran tidurnya berkualitas. Jadi memang dalam kasus begadang, kita tak bisa hanya melihat satu sisi begadangnya saja. Tapi harus dilihat secara keseluruhan, bagaimana olahraganya, waktu istirahat, dan pemenuhan nutrisinya,” kata Sarah.

Untuk seseorang yang terpaksa harus lembur kerja di malam hari, cukuplah mengganti jam tidur sampai kebutuhan tidurnya terpenuhi. “Misalnya Anda terbiasa tidur pukul 21.00 dan terpaksa lembur sampai pukul 02.00. Banyak orang mengalami itu dan hanya cukup membalasnya dengan menambah jam tidur selama tiga jam. Setelah itu dia akan segar kembali dan bisa beraktivitas lagi,” tambahnya.

Lalu apa perlu tambahan multivitamin bagi orang yang terpaksa begadang? “Multivitamin sebenarnya bagian dari kebutuhan nutrisi, apakah nutrisinya sudah cukup atau tidak? Multivitamin bisa diminum jika memang diperlukan dan sesuai kebutuhan saja,” katanya.

Kebutuhan nutrisi masing-masing orang berbeda, tergantung usia dan juga jenis kelamin. Misalnya, orang yang sedang hamil, kebutuhan kalsiumnya tentu lebih banyak dibanding orang tidak hamil. Oleh karena itu, orang hamil harus menambah konsumsi kalsium.
Yang terpenting, lanjut Sarah, bagi orang yang terpaksa begadang harus memerhatikan kebutuhan nutrisi dan olahraga minimal setengah jam sehari sesuai standardisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Selain memperhatikan nutrisi, berolahraga, hindari merokok dan minum alkohol. Jika itu dilakukan maka dia akan tetap sehat,” tandasnya.

Sarah mengatakan, setiap orang mempunyai jam biologis tidur yang sangat tergantung dari kebiasaan. Jika jam biologis terganggu, biasanya orang akan tepar (jatuh). Namun hal itu masih diantisipasi dengan ‘membalas’ kekurangan waktu tidur dengan menambah jam tidur.